...

...

Kamis, 01 November 2018

BERCERITA

Dulu, kita paling suka kalau mendengarkan cerita. Seruuu ...kita bisa mendapatkan banyak hal darinya. Iya, kan?
Ada banyak hal yang dilakukan atau diajarkan dengan cara bercerita. Untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti, nasihat bahkan pelajaran di sekolah, pola bercerita dinilai efektif untuk diterapkan. Bahkan sejarah dalam Alquran pun disampaikan dengan kisah (cerita). 
 Namun tidak semua orang pandai bercerita. Kita sering melihat bagaimana seseorang bercerita dengan sangat menarik sehingga semua yang mendengarkan dengan antusias. Ada pula yang bercerita dengan datar saja sehingga para pendengarnya merasa bosan. Memang ada beberapa orang yang kesulitan menyampaikan pesan dengan cara bercerita, tapi justru lihai bila disuruh menulis cerita.  Lalu bagaimana caranya agar bercerita bisa menjadi sebuah keterampilan yang dimiliki? Jawabannya adalah ia, bercerita, harus dilatih dan dibiasakan. 

Di perpustakaan MTsN 1 Garut, para pengurus Pustakawan Siswa, yakni organisasi siswa yang bergerak di bidang kepustakaan, melakukan kegiatan literasi setiap hari. Mereka secara berkesinambungan membaca buku dan menuliskan perkembangannya dalam sebuah "jurnal membaca". Lalu setiap seminggu sekali secara berkelompok menyampaikan isi buku yang telah mereka baca. Mereka bercerita secara bergiliran, di kelompoknya masing-masing. 


Dalam kegiatan bercerita (berdasarkan isi buku) itu, mereka belajar banyak, yaitu :
1. Menyerap pesan moral
2. Memahami alur cerita 
3. Mengenal dan menghayati tokoh cerita
4. Menyampaikan kembali apa yang telah ia cerna
5. Berani tampil bicara di depan orang (teman)
6. Melatih percaya diri
7. dan lain-lain

Bila kegiatan bercerita ini dilakukan secara berkesinambungan, siswa akan terlatih. Diharapkan kelak mereka akan mampu berkomunikasi secara sistematis, terarah sekaligus bisa menyampaikan pesan moral di dalamnya.
Selain itu, siapa tahu pada saatnya kelak mereka akan mampu menuangkannya dalam bentuk tulisan. Akan lahir penulis-penulis baru yang akan mengayakan peradaban pada zamannya.

Aaamiiin ...










Jumat, 14 September 2018

Hari Kunjung Perpustakaan

Sebenarnya ada banyak momentum bagi perpustakaan. Sebut saja beberapa
  • Ada hari buku nasional tanggal 17 Mei atau kerap disebut sebagai bulan buku
  • Hari buku internasional tanggal 23 April
  • Hari buku anak sedunia tanggal 2 April
  • Hari dongeng sedunia tanggal 20 Maret
  • Hari Puisi sedunia tanggal 21 Maret
  • Hari Puisi nasional tanggal 28 April
  • Hari Aksara sedunia tanggal 8 September
  • Hari Kunjung Perpustakaan tanggal 14 September yang di dalamnya juga ada bulan Gemar Membaca


Peringatan hari-hari bersejarah itu bisa dijadikan momentum untuk melakukan kegiatan, sekaligus mendekatkan gema perpustakaan di kalangan yang lebih luas.

4 fungsi perpustakaan, yakni fungsi informasi, edukasi, riset dan rekreasi sejatinya menjadi napas yang menghela detak kerjanya. Sehingga buku-buku serta koleksi lain di dalamnya dapat dengan berkesinambungan dirasakan manfaatnya oleh semakin banyak pemustaka. Terlebih lagi sekarang tampilan gedung serta sarana perpustakaan semakin dibuat menarik dan eye catching.

Hari Kunjung Perpustakaan di MTsN 1 Garut, telah sejak tahun 1996 diperingati serta diisi dengan berbagai kegiatan lomba antar kelas. Semuanya terangkum dalam wadah BGMKP atau Bulan Gemar Membaca dan Kunjung Perpustakaan. Namun sejak tahun 2016 pelaksanaannya digabungkan dengan peringatan PHBI dan bakti sosial khitanan massal. Diusunglah kegiatan besar dengan nama "Gebyar Madrasah"

Maka, apapun kegiatan dan namanya, spirit itu tetap harus dijaga.

Selamat Hari Kunjung Perpustakaan. Semoga Perpustakaan semakin berdaya

Rabu, 22 Agustus 2018

Kunjungan Belajar ke Perpusnas RI



Dua hari menjelang pembukaan Asian Games atau sehari jelang Hari Kemerdekaan, siswa-siswi MTsN 1 Garut berkesempatan berwisata ke ibu kota. Wisata sambil belajar, belajar dalam kegiatan wisata, begitulah yang menjadi agenda tahunan di madrasah. Setelah berkunjung ke Bapusipda Propinsi Jawa Barat di Bandung, tahun ini siswa-siswi kelas 9 berkesempatan berkunjung ke Perpusnas RI di kawasan Jl. Medan Merdeka Selatan Jakarta Pusat.

Wisata edukasi ini telah menjadi agenda tahunan madrasah. Sebagai pelajar dan pembelajar,  literasi memang tak bisa dipisahkan dari kebutuhan hidup, menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari dan dilalui dengan sukacita. Maka perjalanan kali inipun diwarnai dengan penuh keriangan.

Berikut ini sebagian gambar yang sempat diabadikan.


 Gedung Perpusnas RI dibidik dari gerbang

   
Setelah sholat subuh di Masjid Istiqlal dan sarapan, mereka berbaris dengan rapi memasuki pintu depan


  Setelah melewati beberapa koleksi buku dan diorama, bertemulah dengan spot ini.
Bila berkunjung ke perpusnas, jangan lupa berfoto di spot 'wajib' ini, yaa

Bapak kepala MTsN 1 Garut, Bapak Tatang Sobirin, S.Ag, MA., MPd. menyerahkan cenderamata yang diterima oleh Pustakawan Perpusnas RI, Bapak Drs. Yoyo Yahyono, S.IP, M.Si 



Menerima penjelasan serta menonton film dokumenter sejarah Perpusnas RI
di auditorium Lantai 4 Perpusnas

Sesi tanya jawab

Salam Literasi






Senin, 15 Agustus 2016

Proses Labeling Buku

Sebelum buku siap ditata di rak dan dipinjamkan kepada pemustaka, terlebih dahulu melalui tahapan proses sebagai berikut :
1. Mencatat di Buku Induk
2. Penomoran buku
3. Stempel
5. Menempelkan label Call Number atau Nomor Panggil, yakni berupa kombinasi no klass, tiga huru nama pengarang setelh dibalik dan huruf pertama judul.
6. Memberi sampul buku
7. Penempelan kartu dan kantung buku
8. Shelving (penjajaran buku di rak, sesuai klassifikasi)

Berikut ini adalah proses labeling (menempelkan label pada punggung buku)

1. Klasifikasi

Hal pertama yang dilakukan adalah melihat klassifikasi. Termasuk ke dalam klassifikasi apa/berapa buku tersebut. Untuk itu diperlukan buku pintarnya, yakni Klasifikasi Persepuluhan Dewey




Setelah diketahui no klasifikasinya, kemudian buat Call Numbernya. Misalnya, buku yang berjudul
Penelitian Tindakan Kelas, penulis Saur Tampubolon. Buku tersebut subyeknya pendidikan. Dalam DDC (Dewey Decimal Classificatin/Klasifikasi Persepuluhan Dewey) pendidikan adalah klass 370. Selanjutnya perhatikan lebih detil, sub seksi yang cocok atau sesuai dengan buku tersebut.



2. Call Number / Nomor Panggil

Sudah dapat. Buku berjudul Penelitian Tindakan Kelas masuk kelasifikasi 370.7
masukkan tiga huruf pertama nama pengarang setelah dibalik.
Saur Tampubolon ----> Tampubolon, Saur ----> TAM
terakhir masukkan huruf pertama judul
Penelitian Tindakan Kelas ----> p
Maka Call Number buku etrsebut adalah

370.7
TAM
p

Call Number itulah yang dituliskan dalam label yang akan ditempelkan di setiap punggung buku.

3. Membuat label

Selanjutnya adalah membuat label. Setiap buku dipasang label yang sesuai dengan Call Numbernya. Maka bila bukunya ada 5 eksemplar, 5 label yang dibuat. Meskipun label dan Call Numbernya sama, tetapi setiap buku memiliki no induk yang berbeda. Sehingga tidak akan menyulitkan pengelola dalam mencatat nomor peminjaman.
Label bisa dibuat dengan diketik seperti ini 
  label ini dibuat untuk beberapa buku dan Call Number

 Setelah diprint kemudian digunting 

 


 Lalu tempelkan di punggung buku, 3 cm dari bawah

 


Setiap label memiliki warna berbeda untuk memudahkan pemustaka dalam mencari dan menyimpan kembali di rak sesuai dengan klasifikasinya. Pilihan warna tergantung pada kebijakan masing-masing pengelola perpustakaan.
Di perpustakaan MTsN Garut penetapan warnanya adalah sbb :
100 = Psikologi/Filsafat = Putih
200 = Agama = Hijau
300 = Ilmu-ilmu Sosial = Pink
400 = Bahasa = Coklat
500 = Ilmu-ilmu Murni = Merah
600 = Teknologi = Biru
700 = Kesenian, Hiburan, Olahraga = Ungu
800 = Sastra = Kuning
900 = Sejarah, Geografi, Biografi = Putih

 Ini contoh label untuk klass Agama = Hijau

 

 4. Membungkus buku dengan sampul plastik

Bila proses penempelan labeling sudah selesai, selanjutnya bungkus buku dengan sampul bening.








5. Selanjutnya penempelan kantung dan kartu buku

 



6. Shelving (penjajaran buku di rak)





Bila seluruh proses sudah dilalui, maka buku disusun di dalam rak sesuai dengan nomor klasifikasinya. Dan buku siap dipinjamkan.




Dalam setiap rak diberi no klas untuk memudahkan pemustaka mencari buku.

Demikian proses labeling buku yang dilakukan di Perpustakaan MTsN Garut.
Semoga bermanfaat.

Rabu, 09 September 2015

Menyambut Kunjungan Assesor

Pada Senin, 31 Agustus dan Selasa, 1 September 2015, MTs. Negeri Garut mendapat jadwal untuk diakreditasi, setelah sebelumnya  mengirimkan data  hasil Evaluasi Diri (evadir) dan BAP-S/M menilai bahwa MTsN Garut layak untuk divisitasi.

Tentu saja, untuk kegiatan tersebut, seluruh elemen madrasah mengadakan persiapan, tak terkecuali Perpustakaan MTsN Garut.  

Akreditasi sekolah/madrasah sendiri (seperti ditulis di sini) adalah merupakan kegiatan penilaian yang dilakukan oleh pemerintah dan atau lembaga mandiri yang berwenang untuk menentukan kelayakan program sebuah sekolah/madrasah berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk akuntabilitas publik yang dilakukan secara obyektif, adil, transparan dan komprehensif dengan menggunakan instrumen dan kriteria yang mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan. (Kemendiknas-2011)

Layaknya menyambut tamu, tuan rumah harus bebenah. Meskipun pengelolaan serta pelayanan di Perpustakaan MTsN Garut selama ini memang berjalan dengan baik dan lancar, pengunjung dan peminjam selalu penuh dan menggembirakan, tetapi persiapan selalu menjadi sebuah keharusan.

Maka seluruh staff pengelola perpustakaan dibantu Pustakawan Siswa mulai mengadakan persiapan.

1. Rapat Intern Pengelola Perpustakaan
2. Rapat (pembinaan &  pengarahan) Pustakawan Siswa



3. Merapikankembali buku-buku sesuai klassifikasi
namun di sela kesibukan, pengajian rutin harian tetap berlangsung, sebagai upaya pemenuhan energi jiwa serta keseimbangan beraktivitas.

Jumat, 31 Oktober 2014

Kemeriahan BGMKP (BULAN GEMAR MEMBACA DAN KUNJUNG PERPUSTAKAAN) 2014 dalam Gambar

Upacara Pembukaan Bulan Gemar Membaca dan Kunjung Perpustakaan 2014
oleh Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum
Bpk. Drs. Saepul Kamal Jamhur, MA


Lomba Solo Vocal

Rabu, 23 Juli 2014

PROGRAM KERJA PERPUSTAKAAN MTsN GARUT



PROGRAM KERJA
PERPUSTAKAAN MTs NEGERI GARUT
TAHUN PELAJARAN 2014/2015


BAB I
 
PENDAHULUAN


Keberadaan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari peradaban dan budaya umat manusia. Ia bisa menjadi tolok ukur kemajuan dan budaya sebuah bangsa. Bangsa yang cerdas dan berbudaya adalah bangsa yang memiliki visi pendidikan yang terarah, terukur dan berkelanjutan. Maka dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat mengembangkan potensi masyarakat agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional. 
Selanjutnya, sesuai dengan peruntukannya, perpustakaan sekolah memegang peranan penting dalam memberikan wahana pembelajaran bagi penggunanya yaitu siswa beserta sivitas sekolah tersebut, demi memenuhi tujuan pendidikan. Selain itu pula menumbuhkan budaya gemar membaca melalui pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi dan sumber belajar.